Senin, 28 Maret 2011

Mengenal Sansevieria (Bagian - 3)

Tanaman Sansevieria mudah dikenali dari daunnya yang tebal dan banyak
mengandung air (fleshy dan succulent). Struktur daun seperti ini membuat
Sansevieria  tahan terhadap kekeringan. Proses penguapan air dan laju transpirasi dapat ditekan. Daun tumbuh di sekeliling batang semu di atas permukaan tanah. Bentuk daun panjang dan meruncing pada bagian ujungnya 


Bunga kecil sampai sangat besar dan amat menarik, kebanyakan banci,
aktinomorf atau sedikit zigomorf. Hiasan bunga berupa tenda bunga yang
menyerupai mahkota dengan atau tanpa pelekatan berupa buluh,  terdiri atas 6
daun tenda bunga, jarang hanya 4 atau lebih dari 6, kebanyakan jelas tersusun
dalam 2 lingkaran.  Benang sari 6, jarang sampai 12 atau hanya 3, berhadapan
dengan daun-daun tenda bunga. Tangkai sari bebas atau berlekatan dengan
berbagai cara. Kepala sari beruang 2, membuka dengan celah membujur, jarang
dengan suatu liang pada ujungnya (Tjitrosoepomo, 1994). 

Buah Sansevieria adalah jenis buah beri, yaitu buah yang memiliki celah
berisi biji. Warna kulit buah saat masih muda hijau, setelah tua ada yang merah, oranye, hitam, dan hijau kusam. Jumlah biji dalam satu celah antar spesies yang satu dengan yang lain berbeda, yaitu 1-4 biji. Saat masih muda kulit buah halus setelah tua kasar (Lingga, 2008). 

Biji dihasilkan dari  pembuahan serbuk sari pada kepala putik. Biji
memiliki peran penting dalam perkembangbiakan tanaman. Biji  Sansevieria
berkeping tunggal seperti tumbuhan monokotil lainnya. Bagian paling luar dari
biji berupa kulit tebal yang berfungsi sebagai lapisan pelindung. Di sebalah dalam kulit terdapat embrio yang merupakan bakal calon tanaman                 
(http/www.dunia flora, 2008).

Syarat Tumbuh :
 
Iklim 
Pada malam hari tanaman ini membutuhkan temperatur 15-17,5°C dan
siang hari 20-22,5°C, meski demikian Sansevieria  sangat bandel terhadap tinggi rendahnya temperatur, tanaman  Sansevieria  bisa diletakan di berbagai tempat
misalnya di teras, di bawah atap atau di tempat-tempat yang agak kering           
 
Ada dua tipe  Sansevieria  berdasarkan kebutuhannya terhadap cahaya
matahari. Pertama, jenis Sansevieria  yang membutuhkan cahaya matahari penuh atau  full sun. Misalnya, Sansevieria cylindrica, Sansevieria liberica, Sansevieria trifaciata. Tanaman Kedua, jenis Sansevieria yang menghendaki cahaya matahari yang tidak langsung. ini tumbuh baik di tempat yang ternaungi. Sansevieria yang masuk dalam katagori ini umumnya berdaun kuning, misalnya  Sansevieria hyacinthoides dan jenis 'hahnii' (http/www.dunia flora, 2008).

Tempat Tumbuh
Keasaman (pH) media tanam yang ideal untuk Sansevieria adalah 5,5-7,5.
Meskipun demikian tanaman ini bisa bertoleransi pada rentang pH 4,5-8,5. Pada kondisi asam, penyerapan hara nitrat dan fosfor akan terhambat. Kondisi asam juga mendorong bebasnya besi dan almunium yang justru merupakan racun bagi tanaman. Selain itu, media tanam yang terlalu asam merupakan tempat yang ideal bagi pertumbuhan patogen. Akibatnya, tanaman menjadi sangat rentan terhadap serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur seperti busuk rimpang dan busuk daun (Pramono, 2008).

Stek Sansevieria  
Cara penyetekan ini menggunakan bagian akar sebagai sarana perbanyakan tanaman. Pada stek batang tunas keluar dari mata tunas. Pada stek akar tunas keluar dari bagian akar yang mula-mula berbentuk seperti bintil. Bisa juga dari bekas potongannya yang mula-mula membentuk kalus.
Perbedaan penampilan dari stek ini juga dimunculkan dari stek umur daun
yang ditanam. Stek dari umur tua ternyata memberikan penampilan anakan yang berbeda dengan stek dari umur muda. Hal ini yang semakin memberikan daya tarik untuk mengkoleksi tanaman Sansevieria  ini. Variasi penampilan dari jenis-jenis baru dapat dimunculkan melalui perbanyakan stek daun dan tidak selalu melalui perbanyakan generatif (Triharyanto dan Sutrisno, 2007). 

Untuk menunjang keberhasilan perbanyakan tanaman dengan cara stek,
tanaman sumber seharusnya mempunyai sifat-sifat unggul serta tidak terserang hama dan penyakit. Selain itu, manipulasi terhadap kondisi lingkungan dan status fisiologi tanaman sumber juga penting dilakukan agar tingkat keberhasilan stek tinggi. Kondisi lingkungan dan status fisiologi yang penting bagi tanaman sumber diantaranya adalah:
a.  Status air : Stek lebih baik diambil pada pagi hari dimana bahan stek dalam
kondisi turgid.
b.  Temperatur : Tanaman stek lebih baik ditumbuhkan pada suhu 12°C-27°C.
c.  Cahaya  : Durasi dan intensitas cahaya yang dibutuhkan tanaman sumber
tergantung pada jenis tanaman, sehingga tanaman sumber seharusnya
ditumbuhkan pada kondisi cahaya yang tepat.
d.  Kandungan karbohidrat : Untuk meningkatkan kandungan karbohidrat bahan stek yang masih ada pada tanaman sumber bisa dilakukan pengeratan untuk menghalangi translokasi karbohidrat. Pengeratan juga berfungsi
menghalangi translokasi  hormon dan substansi lain yang mungkin penting untuk pengakaran, sehingga terjadi akumulasi zat-zat tersebut pada bahan stek. Karbohidrat digunakan dalam pengakaran untuk membangun kompleks makro molekul dan sebagai sumber energi. Walaupun kandungan karbohidrat bahan stek tinggi, tetapi jika rasio C/N rendah maka inisiasi akar juga akan terhambat karena unsur N berkorelasi negatif dengan pengakaran stek.
(Hartmann and Kaster, 1997). 

Pada stek  Sansevieria  inisiasi akar di mulai 4-6 minggu setelah daun di
akarkan, selanjutnya tunas baru akan tumbuh pada 3-4 bulan berikutnya, setiap helaian potongan daun bisa menghasilkan 1-5 anakan baru, tergantung pada kultivar, panjang potongan dan kondisi fisiologis daun selama pengakaran berlangsung (Lingga, 2005).

Media Tumbuh
Pasir sangat bagus digunakan sebagai media tanam Sansevieria, terutama
yang ditempatkan dalam ruangan. Selain porositasnya tinggi, pasir mempunyai
kapasitas tukar kation yang rendah sehingga sangat lambat dalam melepaskan
unsur hara.  Jenis pasir  yang umum digunakan adalah pasir malang
(http//www.wikipedia, 2009).
 
Sumber bahan organik bisa berupa sekam mentah, sekam bakar, cocopeat,
dan cacahan akar pakis. Meskipun dibutuhkan dalam jumlah yang tidak banyak,
bahan ini berfungsi untuk memperbaiki tingkat aerasi media tanam. Di samping
itu, penggunaan arang sekam dapat menyediakan unsur kalium.
(Triharyanto dan Sutrisno, 2007).  

 Kompos sangat dianjurkan karena dapat memperbaiki produktifitas tanah.
Secara fisik kompos bisa menggemburkan tanah, memperbaiki aerase dan
drainase tanah  secara kimia kompos dapat meningkatkan kapasitas tukar kation, ketersediaan unsur hara, secara biologis kompos merupakan sumber makanan bagi mikroorganisme tanah (Hanafiah, 2005). 

Sekam bakar dikenal sebagai campuran media yang cukup baik untuk
mengalirkan air, sehingga media tetap terjaga kelembabannya. Namun selain
arang, sekam juga punya kemampuan untuk menjernihkan air dan juga
menghalang penyakit. Bahkan kandungan nitrogen yang dimilikinya, diyakini bisa meningkatkan kesuburan dari media tanaman. Komposisi kimiawi dari arang
sekam sendiri terdiri dari SiO2  dengan kadar 52% dan C sebanyak 31%.
Sementara kandungan lainnya terdiri dari Fe2O3, K2O, MgO, CaO, MnO, dan Cu
dengan jumlah yang kecil serta beberapa bahan organik lainnya. Dengan
kandungan yang lengkap, membuat bahan ini jadi pilihan utama bagi penghobi
tanaman hias untuk memberikannya dalam media tanam
(http//www.tabloidgallery, 2008).
 
Bahan Tanam
   Batang sebagai bahan stek dapat berasal dari bagian tengah, pangkal, atau
pucuk dan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Bahan stek
berasal dari pucuk seringkali masih terlalu muda sehingga lunak mengakibatkan stek menjadi lemah dan akhirnya mati. Pada stek pucuk merupakan bagian yang paling meristematik, yang artinya sel-sel dalam jaringan sangat aktif membelah sehingga tunas lebih cepat muncul dan tunas yang dihasilkan lebih banyak.
Kemampuan stek membentuk akar dan tunas dipengaruhi oleh kandungan
karbohidrat dan keseimbangan hormon yang tercermin pada C/N rasio. Bahan stek dengan C/N rasio yang tinggi akan lebih mudah membentuk akar                     (Salisbury dan Ross, 1995). 

  Pada stek daun bagian tengah memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi
dibandingkan dengan bagian atas. Pada awal penyetekan karbohidrat berperan
penting dalam metabolisme tanaman yang menghasilkan energi kemudian
digunakan untuk pertumbuhan akar (Hardjati, 2005). 

  Bahan awal perbanyakan yang dapat digunakan pada stek daun dapat
berupa lembaran daun atau lembaran daun beserta petiol. Bahan awal pada stek daun tidak akan menjadi bagian dari tanaman baru. Penggunaan bahan yang mengandung kimera periklinal dihindari agar tanaman-tanaman baru yang
dihasilkan bersifat  true to type. Akar dan tunas baru pada stek daun berasal dari jaringan meristem primer atau meristem sekunder. Pada tanaman Bryophyllum, akar dan tunas baru berasal dari meristem primer pada kumpulan sel-sel tepi daun dewasa, tetapi pada tanaman, pada Sansevieria akar dan tunas baru berkembang dari meristem sekunder dari hasil pelukaan. Pada beberapa spesies seperti Peperomia, akar dan tunas baru muncul dari  jaringan kalus yang terbentuk dari aktivitas meristem sekunder karena pelukaan. Masalah pada stek daun secara umum adalah pembentukan tunas-tunas adventif, bukan akar adventif. 

Pembentukan akar adventif pada daun lebih mudah dibandingkan pembentukan
tunas  adventif. Secara teknis stek daun dilakukan dengan cara memotong daun dengan panjang 7,5–10 cm atau memotong daun beserta petiolnya kemudian ditanam pada media (Hartmann and Kaster, 1997).